[Object]
Home » » Legenda Simamora Na Oto

Legenda Simamora Na Oto

SIMAMORA terkenal sebagai pedagang garam, Ia sering bepergian untuk waktu yang lama meninggalkan keluarganya untuk berdagang garam. Garam-garam ini diambilnya dari pesisir barat Sumatera untuk dijualnya ke beberapa pasar yang dilaluinya seperti Pahae, Doloksanggul, Sipirok, Silindung,  dan jika dagangannya masih tersisa,  ia akan menjualnya di Bakkara di pinggir Danau Toba. Bakul tempat garamnya diletakkan di atas kuda beban yang menjadi tunggangannya.


Simamora adalah orang yang ramah, dan jujur dalam berdagang. Banyak dari orang-orang yang bertemu dengan dia merasa senang berdagang kepadanya. Oleh karena itu, Simamora punya banyak langganan dan kenalan.


Berdagang garam tidaklah selalu mudah, Hujan menjadi masalah yang paling utama. Ketika hujan turun, kuda-kuda itu tidak mau melanjutkan perjalanan. Dan bakul tempat garam pun tidaklah cukup bagus. Bakul itu terbuat dari anyaman daun kelapa sehingga kurang aman dari air. Dan untuk mengatasinya Simamora biasanya harus menginap di rumah-rumah warga di kampung yang dilaluinya.


Suatu hari, Simamora bertemu dengan dua orang yang sama-sama berdagang garam. Seiring berjalan waktu, ia semakin kompak dengan keduanya dan sering pergi berjualan bersama. Simamora sendiri merasa beruntung mempunyai teman berdagang, selain dia punya teman untuk diajak bicara selama perjalanan, ia juga merasa terbantu untuk hal lain. Terkadang jika musim hujan tiba, sungai-sungai meluap. Untuk menyebrangi sungai, mereka harus menarik kuda beban karena kuda tidak mau menyeberangi sungai. Terkadang kuda ini sangat bebal sehingga harus ditarik oleh dua orang atau lebih.


Sepanjang perjalanan, Simamora mendapat pelanggan lebih banyak dari kedua rekannya, karena Simamora dianggap orangnya lebih jujur dan jualannya juga tidak terlalu mahal. Hal ini mengundang kecemburuan bagi kedua rekannya. Sering keduanya menggerutu karena tidak mendapat pelanggan. Terkadang mereka harus menunggu sampai dagangan  Simamora habis, baru mereka kebagian pelanggan.


Kekesalan ini semakin memuncak sampai suatu ketika mereka merencanakan untuk memberi Simamora pelajaran.


Pada suatu sore, Simamora bersama kedua rekannya terpaksa menginap di warung kopi di satu desa sebelum masuk pasar Doloksanggul karena hujan sedang turun. Warung itu kosong pada malam hari. Pemiliknya tinggal di kampung lain, agak jauh dari tempat itu. Setelah bakul garam diturunkan dari punggung kuda, mereka menambatkan kuda-kudanya di dekat rerumputan sekitar warung. Mereka bercengkrama sambil melinting tongkol jagung yang dijadikan rokok.


Kedua rekannya yang sudah lama mencari kesempatan untuk memberi pelajaran kepada  Simamora, mereka merasa kalau inilah waktunya yang tepat. Mereka berencana untuk mencuri kuda dan garam-garam Simamora selagi dia tidur. Dengan demikian, ia tidak bisa berjualan garam lagi.

Malamnya, kedua rekannya itu menyarankan agar sebaiknya mereka bergantian jaga. Dua orang tidur sedangkan seorang lagi jaga dan saling bergantian hingga pagi tiba.

Hingga merekapun saling bertanya jawab,


Simamora :

Apa perlu begini, selama ini juga tidak pernah terjadi apa-apa katanya

Rekannya :

Itu tidak menjamin kalau disini aman selamanya

Simamora :

Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyembunyikan garam masing-masing

Rekannya :

Dimanapun kau menyembunyikannya, garammu pasti akan bisa ditemukan di warung yang sekecil ini

Simamora :

Saya pastikan tidak akan bisa ditemukan

Rekannya :

Aku tidak yakin, Bagaimana kalau aku bisa menemukan garammu? tanya seorang rekannya

Simamora :

Garamku menjadi milik kalian

Rekannya :

Kalau tidak ?tanya seorang rekannya lagi

Simamora :

Garam kalian menjadi milikku

Rekannya :

Okey,,,,


Ketiganya pun saling sepakat, Lalu simamora pun pergi membawa garamnya. Tidak sampai dua menit ia sudah kembali. Kedua rekannya pun menyalaminya tanda perjanjian sah.

Tetapi kemudian rekannya bertanya, Bagaimana kalau kuda kita pertaruhkan juga? karena rekannya merasa yakin garam tersebut tidak jauh disembunyikan dari tempat itu, mengingat waktu yang dipergunakan  Simamora tidak begitu lama untuk menyembunyikan garamnya.

Simamora pun menjawab, " boleh juga, okey,,,, "


Malam itu Simamora tidur dengan lelapnya. Seperti tidak ada yang sedang dipikirkannya. Berbeda dengan kedua rekannya yang tidak sabar menunggu pagi tiba. Mereka yakin sekali garam itu disembunyikan di dapur. Mereka ingin sekali langsung mencari garam tersebut dan membawa kuda Simamora pergi. Tapi mereka harus berlaku adil sesuai perjanjian.


Pagi pun tiba, mereka juga sudah bangun. Ingin rasanya cepat-cepat menemukan garam tersebut. Akan tetapi untuk menunjukkan kalau mereka berlaku adil, mereka menunggu hingga Simamora bangun. Setelah simamora bangun, ketiganya melinting rokok. Lalu masing-masing menikmatinya tanpa ada yang berselera memulai bicara. Akhirnya rekannya pun mengingatkan simamora tentang kesepakatan mereka.

Simamora pun berkata,

"Silahkan, kalian carilah garam itu"

Rekannya juga menyahut,

“Sebaiknya kita naikkan dulu beban kuda kita kata seorang rekannya,

“Bagus juga, sahut rekannya yang satu lagi, Kuda yang ketiga tinggal dimuat lalu dituntun.”

Simamora pun berkata lagi,

“Aku yakin kalian tidak akan kembali lagi karena malu.” Sambil tersenyum simpul".


Keduanya tidak menjawab, mereka pun langsung bergegas. Mereka memulainya dengan menyisir dapur, sekitar rumah hingga kebun dan garam tersebut pun tidak ditemukan. Mereka kembali ke dapur membongkar barang-barang yang tertumpuk, tetapi tetap juga tidak ditemukan. Dengan hati yang galau mereka pun pergi lagi untuk mencarinya sampai ke bambu-bambu pembatas kampung hingga semak-semak daerah itu. Dan tanpa disadari mereka pun telah jauh dari kampung tersebut.

Setelah menunggu dengan waktu yang cukup lama, Simamora pun pergi melihat ke warung itu. Tetapi rekannya belum juga kembali. Hanya ada pemilik warung,  yang baru sampai dan sedang menjerangkan air dari sumur. Si pemilik warung pun merasa heran melihat banyaknya barang-barang yang berantakan di dapur. Sebelum ia sempat menanyakan tentang barang tersebut, Simamora telah pergi membawa kedua kuda dan garam-garam rekannya itu.


Walau kaget dengan kondisi dapur yang berantakan, si pemilik warung tidak langsung memeriksanya. Ia terlebih dahulu menjerangkan air karena pagi-pagi biasanya banyak pengunjung yang ingin minum kopi. Pemilik warung memeriksa dapur yang diobrak-abrik entah oleh siapa. Dan dia juga heran tidak ada barang-barangnya yang hilang. Untuk memastikan penasarannya, ia menghitung seluruh jumlah karung padi di lumbung, kemudian alat-alat pertanian, memang tidak ada yang hilang. Sambil berpikir apa yang telah terjadi, ia pun merapikan barang-barangnya yang berantakan itu.

Pelanggan warungnya pun telah berdatangan, dia pun tidak menceritakan kejadian di dapurnya. Tak lama kemudian kedua pedagang yang kalah taruhan telah kembali. Mereka mengetahui kalau Simamora sudah pergi bersama kuda-kuda dan keempat bakul garam yang telah dimenangkannya.

Saat itu di warung sedang ada desas desus antara pengunjung, keduanya tidak tahu apa yang sedang terjadi dam mereka berdua pun tidak terlalu memperdulikannya.

Tak lama berselang seseorang diantara pengunjung bertanya kepada pemilik warung,

“Kenapa kopinya asin?” katanya

Kedua pedagang yang mendengar hal itu saling berpandangan. Seperti akan mengatakan sesuatu, mereka pun buru-buru mencicipi kopinya. Dan mereka juga mengatakan bahwa kopinya juga asin.

“Disini tidak ada tempat garam, sungguh” Kata yang punya warung. “Gelas dan sendok sudah saya cuci mana mungkin bisa asin?”

Si pedagang itu pun berkata,

“Jangan-jangan Simamora menyembunyikan garamnya di dalam sumur !”

Keduanya langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeriksa sumur di belakang warung. Galah dijulurkan ke dalam dan dua buah bakul berhasil diangkat dari dalam. Warga di sekitar mengenali bakul tersebut sebagai bakul garam yang biasa dibawa Simamora.


“Lihat ! Kata salah satu pedagang tersebut. “Ini bakul Simamora. Dia benar-benar bodoh, menyembunyikan garam di dalam sumur.”


“Kenapa ? Tanya seseorang dari pengunjung warung itu".


“Karena dia takut garamnya dicuri orang.” Jawab rekan pedagang itu.


“Bodoh benar (oto ma i)” kata orang-orang di warung itu.


“Memang bodoh” ucap kedua pedagang itu. Mereka melakukannya untuk menyembunyikan kemalangan mereka yang telah kalah taruhan.


Berita tentang garam masuk sumur ini langsung cepat menyebar. Kedua pedagang ini juga menceritakan tentang “simamora yang bodoh” (Simamora na oto) kepada setiap orang yang ditemuinya. Namun tidak pernah menceritakan bahwa Simamora lah yang membodohi mereka.

Sekian dan Terimakash




sumber :

Thanks for reading & sharing Sihaloho Sidapitu

0 komentar:

Post a Comment