[Object]

Legenda Batu Gantung

Batu gantung ini terlihat menyerupai sosok tubuh manusia dengan posisi lurus ke bawah dengan keadaan terbalik. Banyak sekali opini yang berkembang di masyarakat tentang asal muasal terbentuknya fenomena alam ini.
Dan untuk melihat batu gantung ini kita harus naik boat/kapal  karena tempatnya berada di sebuah tebing di sisi danau Toba. Di sinilah semua mitos atau legenda batu gantung bermula.
Dahulu kala ada seorang gadis cantik jelita di Parapat, bernama Seruni, Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Dan ladang mereka pun  tidak  jauh dari danau toba.


batu gantung terlihat menyerupai sosok tubuh manusia


Beberapa hari terakhir Seruni selalu tampak murung. Hal ini disebabkan karena Sang Ayah akan menjodohkannya dengan seorang pemuda yang masih tergolong sepupunya sendiri. Padahal, ia telah menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda di desanya dan telah berjanji pula akan membina rumah tangga. Keadaan ini membuatnya menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa, dan mulailah putus asa. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, namun di sisi lain ia juga tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya.

Menjelang sore, dengan berderai air mata ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya ia sudah sangat berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Danau Toba. Sementara Si Boni (anjing peliharaannya) yang juga mengikutinya menuju tepi danau hanya bisa menggonggong karena tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam benak gadis itu (Seruni).
Saat berjalan ke arah tebing di tepi Danau Toba, tiba-tiba ia terperosok ke dalam sebuah lubang batu besar hingga masuk ke dasarnya. Dan, karena berada di dasar lubang yang sangat gelap, membuat gadis cantik itu menjadi takut dan berteriak minta tolong kepada anjing kesayangannya. Si anjing pun  terus-menerus menggonggong di sekitaran lubang itu, kemudian si anjing pun  berlari ke rumah untuk meminta bantuan.
Sesampainya di rumah Si anjing pun  segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan sudah berada di rumah. Sambil menggonggong, mencakar-cakar tanah dan mondar-mandir di sekitar majikannya, yang mengisyaratkan bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.

Sadar akan apa yang sedang diisyaratkan oleh si anjing, orang tua Seruni segera beranjak menuju ladang. Keduanya berlari mengikuti anjing itu hingga sampai ke tepi lubang tempat anak gadis mereka terperosok.
Tak berapa lama kemudian, sebagian besar tetangga telah berkumpul di rumah ayah Seruni untuk bersama-sama menuju ke lubang tempat Seruni terperosok. Mereka ada yang membawa tangga bambu, tambang, dan obor sebagai penerangan.
Seruni yang terjebak di dalam lubang, telah menguatkan hatinya untuk lebih memilih mati dibanding hidup menanggung beban malu karena menolak lamaran orang lain. Ia pun berteriak lantang dari dalam lubang,

" Merapatlah..merapatlah."

Diatas tepian lubang, sambil bercucuran air mata Ibu Seruni berkata pada suaminya, “Pak, lubangnya terlalu dalam dan tidak tembus cahaya. Saya hanya mendengar sayup-sayup suara anak kita yang berkata: parapat, parapat batu…”
Sesaat setelah sang ibu mendengar sayup-sayup suara anaknya dari dasar lubang, terjadilah gemuruh disekitar dinding lubang , perlahan dinding mulut lubang tersebut bergerak merapat dan mengubur sang gadis. Tidak berapa lama kemudian, terjadilah gempa.
Beberapa saat setelah gempa berhenti, di atas lubang yang telah tertutup itu muncullah sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Orang-orang yang melihat kejadian itu mempercayai bahwa batu itu adalah penjelmaan dari Seruni dan kemudian menamainya sebagai “Batu Gantung”.
Konon di area batu gantung, pengunjung dilarang mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak senonoh karena akan membawa kesialan. Di dasar tebing, konon juga terdapat sebuah lubang yang dihuni oleh mahluk Bunian. Setiap festival Toba berlangsung, beberapa ketua adat memberikan sesaji di bawah batu gantung dan di gua kecil tempat mahluk Bunian tersebut berasal.

Dan, karena ucapan Seruni yang terakhir didengar oleh warga hanyalah “parapat, parapat, dan parapat”, maka daerah di sekitar Batu Gantung kemudian diberi nama Parapat. Kini Parapat telah menjelma menjadi salah satu kota tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara.




sumber :