[Object]
Home » » Poda Sagu Sagu Marlangan

Poda Sagu Sagu Marlangan

Di suatu hari Raja Silahisabungan pergi ke ladang sedangkan istrinya [Pinggan Matio] tinggal di rumah, saat itu juga sang istri mendengar suara bayi menangis di atas Para para lalu memeriksa tas hadang-hadangan Raja Silahisabungan. Pinggan Matio sangat terkejut melihat ada seorang bayi laki-laki yang  mungil didalamnya, kemudian dia pun memangku dan menimang-nimangnya agar si bayi itu tidak menangis lagi. Setelah Raja Silahisabungan kembali kerumah, istrinya Pinggan Matio bertanya : amang raja nami, dari mana bayi lelaki yang cantik mungil ini? katanya dengan ramah. Dengan suara yang lembut Raja Silahisabungan menerangkan asal  usul anak itu dan meminta agar memaafkan perbuatannya. Mendengar keterangan suami yang penuh kasih sayang, Pinggan Matio berkata : Sudah Tambun ( Tambah ) anakku dan inilah anak bungsuku maka saya beri namanya Tambun Raja, katanya sambil mendekap dan menimang-nimang bayi itu. Mendengar pernyataan Pinggan Matio, perasaan Raja Silahisabungan pun menjadi lega.



 
Kasih sayang Pinggan Matio kepada anak bungsunya Tambun Raja sungguh berlebihan sehingga menimbulkan Iri hati abang-abangnya. Raja Silahisabungan dan ibu Pinggan Matio sangat memanjakan si Tambun Raja. Pada suatu ketika Raja Silahisabungan mengadakan pembagian tanah kepada anak-anaknya agar jangan terjadi persoalan dikemudian hari. Dalam pembagian itu Siraja Tambun mendapat tanah yang paling luas dan subur yang mengakibatkan kecemburuan abang-abangnya semakin dalam.

Pada suatu hari terjadilah pertengkaran antara si Raja Tambun dengan salah seorang abangnya. Dalam pertengkaran itu terungkap kata-kata yang menyakitkan hatinya : 'Hai raja tambun, kau jangan manja dan sombong, kau bukan adik kami, entah dimana ibumu kami tak tau,' Mendengar ucapan yang memilukan itu, si Raja Tambun pun menangis tersedu-sedu dan mengadu kepada ibunya. Ibu Pinggan Matio mengusap usap anaknya itu dengan kasih sayang dan mengatakan : Jangan dengarkan kata-kata abangmu itu. Aku adalah ibumu yang membesarkan kau sejak kecil. Tetapi setiap timbul pertengkaran dengan abangnya selalu didengarnya kata-kata yang menyayat hatinya, akhirnya si Raja Tambun pun memberanikan diri bertanya kepada ayahnya : 'Ayah, siapakah ibu yang melahirkan saya dan dimana pamanku?' raja Silahisabungan menjawab dengan ramah dan penuh kasih sayang : Anakku tersayang, ibumu adalah Pinggan Matio yang membesarkan dan menyusukan kau sejak kecil.

Karena tindakan dan perbuatan abangnya semakin menyakitkan, maka si Raja Tambun dengan tegas bertanya: ' ayah jangan berdusta lagi, siapa sebenarnya ibu yang melahirkan saya ?' katanya dengan nada mengancam dihadapan pinggan matio. Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio saling berpandangan lalu menjawab : Anakku tercinta, ibumu adalah Siboru Nailing Putri Raja Mangarerak di Sibisa, Bila kau ingin dan rindu menjumpainya, biarlah ku antar kau nanti, katanya dengan membujuk.

Kemudian Raja Silahisabungan menyuruh Pinggan Matio menempa Sagu-sagu Marlangan berbentuk manusia yang ditaruh ke dalam ampang ( Sejenis bakul ). Mereka pergi ke maras dan dibentangkanlah tikar tempat mereka duduk. Raja Silahisabungan, Pinggan Matio bersama Deang Namora duduk menghadap ampang berisi Sagu-sagu marlangan, lalu disuruhnya Loho Raja, Sondi Raja, Dabariba Raja dan Batu Raja duduk di sebelah kanannya. Tungkir Raja, Batu Raja dan Debang Raja disuruhnya duduk di sebelah kiri mereka. Sedangkan si Tambun Raja disuruh duduk di depannya sama-sama menghadap ampang berisi Sagu-sagu Marlangan. Setelah mereka duduk mengelilingi ampang berisi sagu-sagu marlangan itu Raja Silahisabungan berdiri dan berdoa kepada Mula Jadi Nabolon, lalu menyampaikan pesan ( wasiat ) yang kemudian terkenal dengan nama :
“ PODA SAGU- SAGU MARLANGAN “
Isi Poda sagu-sagu marlangan tersebut adalah sebagai berikut :



HAMU ANAKKU NA UALU :
INGKON MARSIHANOLONGAN MA HAMU SAMA HAMU RO DI POMPARANMU, SISADA ANAK SISADA BORU, NA SO TUPA MARSIOLIAN, TARLUMOBI POMPARANMU NA PITU DOHOT POMPARANMU SI TAMBUN ON.

INGKON HUMOLONG ROHAMU NA PITU DOHOT POMPARANMU TU BORU POMPARAN NI ANGGIMU SI TAMBUN ON, SUANG SONGON I NANG HO TAMBUN DOHOT POMPARANMU INKON HUMOLONG ROHAM DI BORU POMPARAN NI HAHAM NA PITU ON.

TONGKA DOHONONMU NA UALU NA SO SAINA HAMU TU PUDIAN NI ARI.

TONGKA PUNGKAON BADA MANANG SALISI TU ARI NA NAENG RO

MOLO ADONG PARBADAAN MANANG PARSALISIHAN DI HAMU, INGKON SIAN TONGA-TONGAMU MA SI TAPI TOLA, SIBAHEN UMUM NA TINGKOS, NA SOJADI MARDIKKAN, JALA NA SO TUPA HALAK NA ASING PASAEHON.


Kemudian Raja Silahisabungan duduk dan menyuruh anak-naknya menjamah sagu-sagu marlangan itu tanda kesetiaan dan ikrar yang harus dijunjung tinggi. Hingga Raja Silahisabungan menjamah Sagu-sagu marlangan itu dan berkata : 'Sai dipargogoi Mula jadi Nabolon ma hami dohot pomparanmi mangulahon poda na nilehonmi amang,'.  Kemudian Raja Silahisabungan berkata, barang siapa yang melanggar wasiat ini, seperti sagu-sagu marlangan inilah kelak tidak berketurunan, ingkon mago jala pupur.

Setelah acara di maras Simarampang selesai, Raja Silahisabungan bersama istrinya dan putra putrinya kembali lagi ke rumah 'Huta Lahi' untuk mempersiapkan bekal si Tambun Raja diperjalanan. Pada saat itulah Raja Silahisabungan memberikan barang homitan hadatuon kepada si Tambun raja. Kemudian si Tambun
Raja bersalaman dengan abang-abangnya sambil saling memberikan doa restu. Sewaktu menyalam Pinggan Matio, ibunya itu mendekap si Tambun Raja dan berkata : Unang lupa ho amang di au inangmon na patarushon dohot na pagodang-godang ho, katanya sambil mendoakan semoga si Tambun Raja selamat dan berbahagia kelak.

Mendengar kata-kata Pinggan Matio, Ito nya Deang Namora menangis lalu merangkul dan mencium si Tambun
Raja dengan rasa pilu dan sedih, lalu ia berkata : 'borhat ma ito tu huta ni tulangta, na denggan i ma paboa tu inang pangintubu, gabe jala horas ma ho amang na burju,' katanya dengan terisak-isak. Setelah itu berangkatlah si Tambun Raja diantar Raja Silahisabungan ke Sibisa.










sumber :

Thanks for reading & sharing Sihaloho Sidapitu

0 komentar:

Post a Comment