Sejarah Raja Silahisabungan

Menurut buku Tarombo Siraja Batak, Raja Silahisabungan adalah generasi atau terunan ke 5 dari Siraja Batak .
Siraja Batak memiliki dua orang anak yaitu :

              * Guru Tateabulan
              * Raja Isobaon


raja silahisabungan generasi ke lima dari si raja batak


1. Guru Tateabulan mempunyai 5 orang
    putra yaitu :

        * Siraja Biak-biak
        * Sariburaja 
        * Limbongmulana
        * Sagalaraja
        * Silauraja

2. Raja Isobaon menpunyai 3 orang
    putra yaitu :

        * Tuan Sorimangaraja
        * Siraja Asi-asi
        * Songkar Samaridan


Tuan Sorimangaraja mempunyai 3 orang
putra yaitu :

      * Tuan Sorbadijulu
      * Tuan Sorbadibanua
      * Tuan Sorbadijae


Tuan Sorbanibanua seorang raja yang perkasa di Balige mempunyi 2 orang istri, yaitu Anting malela boru Pasaribu dan boru Basopaet.

Dari Anting Malela boru Pasaribu lahir anaknya 5 orang putra yaitu :

1. Raja Sibagot ni Pohan ,mempunyai kerajaan
    di balige
2. Raja Sipaet tua, mempunyai kerajaan
    di Laguboti
3. Raja Silahisabungan , mempunyai kerajaan
    di Silalahi
4. Raja Oloan mempunyai kerajaan di Bakara
5. Raja Hutalima tidak mempunyai keturunan

Dari Boru pasopait lahir anaknya 3 orang putra yaitu :

1. Toga Sumba menpunyai kerajaan
     di Humbang
2. Toga Sobu mempunyai kerajaan
     di Silindung
3. Toga Pospos mempunyai kerajaan
     di Silindung


RAJA SILAHISABUNGAN, diperhitungkan lahir tahun 1300-an di Lumban Gorat Balige dan meninggal tahun 1450 di Silalahi Nabolak. Raja Silahisabungan terkenal seorang “Datu Bolon“ dan raja yang termansyur. Banyak berita-berita yang menakjubkan tentang Raja Silahisabungan dan keturunannya yang tertulis dalam buku Tarombo Siraja Batak maupun ceritanya yang terdapat pada keturunan Tuan Sorbani Banua maupun marga-marga lain merupakan bunga rampai sejarah Raja Silahisabungan


Berita Na Marpantom-pantom anak tuan Sorba ni Banua

Tuan Sorba ni Banua Raja yang perkasa di Toba Balige menginginkan agar anak-anaknya kelak menjadi panglima perang yang termasyur. Untuk mewujudkan cita-citanya itu maka Tuan Sorba ni Banua mengajarkan anak-anaknya berbagai ilmu pencak silat dan melatih lempar tombak.
Setelah anak-anakanya memiliki ilmu pencak silat dan matang melempar tombak maka Tuan Sorba ni Banua menyuruh anaknya mengadakan pertandingan perang manombak (marpantom-pantom) antara anak Boru Pasarubu melawan Anak Boru Basopaet. Supaya jangan timbul kecelakaan disuruhnya tombak (hujur) mereka dibuat dari Pinpin (sanggar).
Dalam pertandingan perang menombak (marpantom-pantom) ini nampak keunggulan anak dari Basopaet (Toga Sumba, Toga Sobu, Toga Pospos) yang selalu mengalahkan anak Boru Pasaribu. Anak dari Boru Pasaribu (Sibagot ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan, Siraja Oloan dan Siraja Hutalima) mereka kaget melihat ketangkasan lawannya menangkap tombak ( hujur ) yang mereka lemparkan.
Pada suatu ketika Siraja Hutalima berniat jahat untuk membunuh lawannya itu. Dibuatnya tombak (hujur) dari Pinpin (sanggar) tetapi diujungnya ditancapkan lidi ijuk (Tarugi) yang berisi racun. Ketika terjadi pertandingan menombak yang seru, Siraja Hutalima melempar tombak (hujur) yang berisi racun itu kepada Toga Sobu, tetapi dengan mudah ditangkapnya. Memperhatikan tombak yang ditangkapnya agak berat lalu diperiksanya. Kemudian Toga Sobu berkata “Na martahi pamate hami do ho hape“ (bermaksud membunuh kami kau rupanya) katanya sambil melempar tombak itu kembali kepada Siraja Hutalima, dan kena pada matanya. Siraja Hutalima menjerit karena matanya berdarah. Sibagot ni Pohan menghunus pedang mau membunuh Toga Sobu, Karena disangkanya Toga Sogu yang berbuat jahat. Untung Silahisabungan cepat melerai dan bertanya kepada Siraja Hutalima “ Hujur ni ise do on, (Tobak Siapa nih) katanya sambil menarik tombak itu dari mata Siraja Hutalima. Siraja Hutalima menjawab: “ hujurhu do i hahang, katanya sambil menjerit. Kemudian silahisabungan mengatakan bahwa Toga Sobu tidak bersalah, karena yang terjadi adalah senjata makan tuan. Sekarang kita bawa Siraja Hutalima kekampung supaya cepat diobati. Sejak itu Siraja Hutalimas sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.
Akibat kematian Siraja Hutalima, Toga Sumba, Toga Sobu dan Toga Pospos merasa takut tinggal bersama anak dari Boru Pasaribu. Akhirnya mereka bersama Boru Basopaet pindah ke daerah Humbang dan Silindung. Dalam berita ini nampak kebijakan Silahisabungan yang masih muda belia menghindarkan pertumpahan darah.


Berita Horja Sakti Sibagot ni Pohan.

Setelah Siraja Hutalima meninggal dunia, Kesehatan Tuan Sorba ni Banua mulai menurun dan sakit – sakitan. Untuk menjalankan tugas – tugas kerajaan, Sibagot ni Pohan dikawinkan dan dinobatkan menjadi Raja pengganti Tuan Sorba ni benua. Setelah lama menderita sakit akhirnya Tuan Sorba ni Banua meninggal Dunia.
Berselang beberapa tahun, terjadi musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan tanam tanaman disawah mati kekeringan dan ternak (kerbau, lembu, kuda) menjadi kurus karena rumput rumputpun tak ada yang tumbuh. Raja Sibagot ni Pohan mulai pusing memikirkan malapetaka yang menimpa negeri. Kemudian dia memanggil “ Datu parmanuk diampang,” ( dukun yang pandai melihat tanda tanda dari seekor ayam yang dipotong dan ditutup dengan bakul) untuk menanya apa gerangan penyebab maka terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Dukun yang melaksanakan acara ritual itu mengatakan : “ mamereng boa – boa ni parmanuhon on, ingkon elehon do sahala ni ompu, paluan ogung sabangunan jala lahaton horbo sitingko tanduk asa udan paremean”. (melihat tanda – tanda dari ayam yang dipotong ini, harus dibujuk sahala nenek moyang dengan memukul gendang dan memotong kerbau besar, baru turun hujan pemberi berkah).
Mendengar petunjuk yang diberikan dukun itu Raja Sibagot ni Pohan berjanji akan memenuhinya. Lalu mengumpulkan penduduk negeri memberitahukan akan diadakan Horja Sakti mengelek sahala ni ompu. Pada saat perundingan itu Raja Sibagot ni Pohan mengatakan kepada adiknya Sipaettua, Silahisabungan dan Siraja Oloan : “Ala Maol do luluan borotan dohot umbu-umbuan na Porlu tu Horja Sakti on, hamu na tolu ma borhat tu harangan laho mamulung.
Mendengar perintah raja Sibagot ni Pohan itu, ketiga adiknya tercengang. Mengapa harus kami yang disuruh ? demikian terlintas dibenak mereka masing-masing. Walaupun mereka merasa kecewa, perintah Raja Sibagot ni Pohan tetap dilaksanakan. Mereka berangkat ke Harangan Leok (hutan Leok) arah Tambunan sekarang. Dalam perjalanan dari balige ke harangan leok, Sipaet tua, Silahisabungan dan Siraja Oloan memperbincangkan pemikiran Abang Mereka Raja Sibagot ni Pohan yang tega menyuruh mereka, pada hal masih banyak orang lain yang patut disuruh. Karena merasa kecewa, timbul niat tidak mengikuti horja Sakti itu, lalu mereka berkeliling di Harangan Leok menunggu selesai Upacara Horja Sakti.
Setelah diperhitungkan hari pelaksanaan pesta selesai mereka kembali dari harangan leok membawa borotan dan pulung-pulungan (ramuan) kehalaman rumah di Lumban Gorat Balige.
Mereka seakan terkejut melihat borotan yang sudah layu dihalaman rumah itu dan berseru memanggil Raja Sibagot ni Pohan dan Bertanya: “Bang, inilah Borotan dan Ramuan yang kami ambil dari harangan Leok. Sangat Sulit Mencari Ramuan ini Sehingga kami lama pulangnya. Kulihat dihalaman rumah ada sudah borotan yang layu, apa yang terjadi ? “ Kata Silahisabungan. Dengan senyum dan ramah Raja Sibagot ni Pohan menjawab: “Terima Kasih, terima kasih adik sayang. Kalian sehat-sehat semua. Kusangka ada terjadi malapetaka di hutan karena kalian tak pulang. Karena hari yang ditentukan dukun sudah tiba, Horja Sakti sudah selesai dilaksanakan. Borotan dan ramuan yang kalian bawa ini baiklah kita simpan untuk Horja Sakti kelak, Katanya Membujuk adik-adiknya itu . Dengan tegas Silahisabungan berkata : “ Pantang Ucapanmu Itu . Tidak baik kita memohon agar terjadi Lagi musim kemarau yang Berkepanjangan“. Lalu diikuti Sipaet tua dan Siraja Olloan “ Ahh…., memang Abang Kurang bijak. Mana mungkin kami adikmu sebagai suhut disuruh mengambil borotan dan pulung pulungan. Kan masih ada orang lain ? Nah, kami serahkan kepada Silahisabungan mengambil keputusan. rupanya mereka bertiga sudah berjanji, bila Horja Sakti telah dilaksanakan Raja Sibagot ni Pohan mereka akan meninggalkan kampung halaman.
Dengan suara lembut dan meyakinkan Silahisabungan berkata: “Abang sebagai raja di negeri ini telah mempermalukan kami. Apa kata penduduk negeri ini, kami sebagai suhut sudah dianggap jadi anak pungut, kau laksanakan Horja Sakti tanpa kami ada kami. Kami sebagai adik kandungmu tidak kau hargai, memang tindakanmu itu tidak manusiawi. Untuk menjaga harga diri, lebih baik kami menjauhkan diri. Berangkatlah kami bertiga tinggallah abang seorang diri, mudah-mudahan Mula jadi memberikan rejeki.
Raja Sibagot ni Pohan terpelongoh mendengar kata-kata dan ucapan Silahisabungan yang menyayat hati. Memang benar tuntutan adikku ini, tetapi apa mau dibuat nasi sudah menjadi bubur. Sebagai raja tidak mungkin mengalah, lalu berkata: ” sudahlah Silahisabungan, kalau soal jawab tidak ada tandinganmu, terserah kalian bertiga apa permintaanmu tidak akan saya larang. Mendengar kata Raja Sibagot ni Pohan yang kurang persuasif ini Silahisabungan marah dan berkata “sudahlah, mana jambar (bagian) kami dalam Horja Sakti itu, Supaya kami berangkat dari kampung ini . kami tidak perlu lagi berhubungan dengan kau, asap apimu pun tidak boleh kami lihat dan bila ada pohon pisangku yang berbuah menyembah kekampung ini akan saya tebang.“
Demikianlah akhir pesta Horja Sakti Sibagot ni Pohan yang menimbulkan perpisahaannya dengan adiknya si paetua, Silahisabungan dan siraja Oloan. Dalam berita ini nampak karakter Silahisabungan yang berpendirian teguh dan tak ada tangguhannya dalam soal jawab.


Perpisahan Sipaetua , Silahisabungan dan siraja Oloan

Setelah menerima jambar “ horja Sakti dan saling merestui dengan Raja Sibagot Ni pohan, Sipaet tua, Silahisabungan, dan Siraja Oloan pergi meninggalkan Lumban Gorat Balige. Mula-mula mereka pergi ke Mual Sibuti mengambil air minum sebagai bekal hidup dikemudian hari. Mereka mengisi air kedalam tabu tabu (kendi dari buah labu) dan mengambil tanah tiga kepal (Tolu Pohul) lalu dimasukkan kedalam gampil (tas terbuat dari kulit) masing-masing. Kemudian mereka mengikat perjanjian, bahwa mereka bertiga dan keturunannya tidak akan mengikuti adat kebiasaan Raja Sibagot ni Pohan.
 
Awal mulanya mereka pergi ke arah timur (porsea) sekarang , dan setelah tiba di daerah Laguboti meraka berhenti, .di daerah ini mereka tinggal beberapa hari untuk memeriksa lahan pertanian .Ternyata daerah itu adalah tanah yang subur sehingga mereka bermaksud tinggal disitu. Tetapi karena asap api Sibagot ni Pohan masih nampak, Silahisabungan tidak berkenan di daerah itu , sedangkan Sipaet tua tetap tinggal disitu. Silahisabungan dan Siraja Oloan pergi melanglang buana meninggalkan Sipaettua setelah mereka saling memberi restu dalam perpisahan yang memilukan .
Silahisabungan dan Siraja oloan mula-mula pergi ke arah dolok Tolong untuk mencari tanah dibalik gunung itu . Tetapi karena mereka ketahui anak Boru Baso paet (Toga sumba , Toga Sobu dan Toga Pos pos) telah tinggal di Humbang , mereka mengubah haluan. Mereka turun ke Meat , terus berjalan ke Muara dan Bakara . Mereka pun memeriksa daerah itu berminggu-minggu dan mereka pun berniat tinggal disitu.
Tetapi pada suatu hari Silahisabungan naik ke bukit Bakara dan Melihat asap api di Balige, maka niatnya tinggal disana dibatalkan. Sementara Siraja Oloan telah menetapkan hati akan tinggal di Bakara, tetapi karena sumpah Silahisabungan kepada Sibagot ni Pohan dan sulit dirasanya berpisah dengan Silahisabungan, maka usul meninggalkan Bakara pun diturutinya. Mereka pergi melanglang buana dari bakara ke Janji raja, Sabulan, Tamba, Sihotang terus ke Pengururan. Perjalanan yang berbulan-bulan ini membuat mereka jadi lelah dan mengaso di tano Siogung-ogung. Disinilah perpisahan Siraja Oloan dengan abangnya Silahisabungan yang sangat mengharukan dan memilukan.
Tano Siogung-ogung adalah negeri Pangururan, tempat pertemuan air danau Toba, tanah perpisahan pulau samosir merupakan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. Demikianlah diibaratkan perpisahan Siraja Oloan dengan Abangnya Silahisabungan adalah merupakan takdir yang tak dapat dielakkan. Tinggallah Siraja Oloan di Pangururan dan kawin dengan Boru Limbong, kemudian pindah ke Bakara dan Kawin dengan Boru Pasaribu.

Silahisabungan pun terus melanglang buana hidup sebatangkara. Dia berangkat dari tanah Siogung-ogung berjalan ke Aek Rangat di kaki dolok Pasuk bukit, terus ke tulas, Bonandolok sampai ke Hasinggaan. Dari Hasinggaan naik ke bukit dan masuk ke harangan Hole, hutan belantara yang tak pernah diinjak manusia. Setelah tiba pada sebuah kayu rindang dia berteduh mengaso melepaskan lelah. Karena capeknya dalam perjalanan Silahisabungan jadi tertidur. Pada waktu itu turun hujan gerimis disertai Guruh dan Halilintar. Suara guruh dan halilintar pun tidak dirasakan Silahisabungan saking pulasnya tertidur.
Setelah hujan berhenti, guruh dan halilintar reda, Silahisabungan pun bangun dari tempat tidurnya. Pada saat itu datang suara yang menakutkan dari atas pohon rindang itu : Hei, anak manusia siapa kau yang berani tidur sitempatku yang angker ini ? nyawamu akan kucabut dan badanmu akan kuserahkan kepada binatang buas yang menjaga tempat ini, “ katanya.”
Silahisabungan terkejut mendengar suara itu. Diperhatikan sekelilingnya tidak ada manusia dan ia yakini itu adalah suara keramat yang berkuasa dihutan itu. Dengan sopan dan sembah sujud Silahisabungan menjawab : “ Ya, Ompung, aku adalah anak yang bernasib malang yang datang dari Toba Balige. Membawa luka dihati karena tindakan sibagot ni Pohan dalam Horja Sakti, “ katanya sambil menerangkan perpisahan dengan Sipaettua dan Adiknya Siraja Oloan yang tidak dapat dilupakan. Dengan suara lembut didengarnya lagi suara : “ Hei anak Manusia, kau adalah orang yang teguh pendirian, tutur sapamu sangat menawan deritamu sungguh mengagumkan. Lihatlah kesebelah kananmu, disitu ada barang bernama Tumbaga Holing, berisi bermacam-macam ilmu (raksa ni sidatuon dohot raksa ni harajaon ). Baca dan pelajarilah isinya dalam-dalam agar kau nanti menjadi datu bolon yang termansyur dan seorang raja yang perkasa.“
Dengan rasa hormat dan sujud semua perintah itu dilaksanakan Silahisabungan. Dia berdiri dan memeriksa tempat yang ditunjuk, memang benar ia menemukan Laklak Tumbaga Holing yang berwarna merah, hijau dan Hitam. Kemudian didengarnya suara: “Sekarang bulan tula (Bulan purnama) hingga bulan tula yang akan datang, kau harus tinggal ditempat ini membaca dan memperdalam ilmu yang terdapat dalam Tumbaga Holing ini.
Tahankan lapar dan dahaga, lawan binatang buas dan ular berbisa, Baca dan pelajari Tumbaga Holing sampai Tamat. Bila datang cobaan atau mara bahaya, lipat tumbaga holing pajamkan mata, pusatkan pikiran jangan ragu semua akan berlalu, kau pasti menang segala cobaan dan mara bahaya akan hilang”, katanya.
Silahisabungan mendengar perintah itu dengan tekun dan berjanji akan menuruti dengan sungguh sungguh. Selama tigapuluh hari tigapuluh malam Silahisabungan bertapa di Harangan Hole. Pada hari artia ni holom, tujuh hari sesudah hari purnama datanglah cobaan. Rasa lapar dan haus yang tiada terhingga datang menggoda, mau melemahkan iman. Silahisabungan melihat tumbaga holing lalu memejamkan mata memusatkan pikiran. Kemudian mendengar suara : “ kau sudah lapar dan haus. Didepanmu ada jeruk purut (unte Anggir) dan pisau lipat. Belahlah jeruk itu dengan pisau dan minum airnya“. Silahisabungan melaksanakan petunjuk itu, rasa lapar dan haus jadi hilang.
Pada hari artia bulan berikutnya atau 14 hari bertapa datang cobaan kedua. Silahisabungan mau diserang tawon dan ular berbisa (harinuan dohot ulok dari) yang datang dari segala penjuru. Dilipatnya Tumbaga Holing, dipejamkan mata dan dipusatkan pikirannya, tawon dan ular berbisa jadi menghilang. Lalu didengarkannya suara : “ didepanmu terletak jeruk purut dan pisau tumbuk lada. Minumlah air jeruk itu dan pisau tumbuk lada yang sebilah ini simpan dengan baik dan kasiatnya pada Tumbaga Holing. Silahisabungan menuruti perintah itu dengan baik.
Pada hari artia ni anggara atau 21 hari bertapa, datang lagi cobaan. Dilihatnya binatang buas (Harimau, Singa) mau menerkamnya. Silahisabungan melipat Tumbaga Holing, memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Tak berapa lama binatang buas menghilang. Kemudian didengarkannya : “ didepanmu terletak jeruk purut dan pisau Halasan (Pisau Harajaon). Minumlah air jeruk itu dan Pisau Halasan ini simpan baik dan baca kegunaannya dalam Tumbaga Holing.
Pada hari purnama (Tula) bulan berikutnya merupakan hari terakhir masa pertapaannya datang cobaan alam yang paling menakutkan. Pada waktu itu datang hujan lebat disertai Angin puting beliung. Guruh dan Halilintar bersaut-sautan, tanah bergetar terasa akan runtuh. Silahisabungan melipat Tumbaga Holing dan menjunjung di atas kepala, mata dipejamkan, pikiran dipusatkan kepada Mulajadi Nabolon. Tidak berapa lama hujan berhenti angin dan halilintar jadi reda. Kemudian didengarnya suara: “sekarang sudah hari purnama (Tula), Sudah 30 hari 30 malam kau bertapa dikeramat Namar Tua Dalan (Tongkonan Namartua Dalan ). di depanmu terletak jeruk purut, pisau bengkok bermata dua dan tombak sedepa yang dapat dipanjangkan (piso sigurdung sidua baba dohot siorlombing sadopa). Bangkitlah dan mandi disungai cuci badanmu dengan jeruk purut itu pisau bengkok dan tombak sedepa simpan baik-baik. Baca kasiatnya dalam Tumbaga Holing. Sekarang berangkatlah kau tinggalkan tempat ini. Kau sudah menjadi manusia sakti. “na siat marpangidoan tu mulajadi Nabolon“ (yang dapat meminta langsung kepada tuhan Yang Maha Kuasa ),” katanya.
Silahisabungan pergi mandi, dibersihkan badan dengan jeruk purut. Badan yang penat kembali segar bugar. Selesai mandi ia berkemas, laklak Tumbaga Holing dan Barangnya disimpan dalam tas (gampil) nya. 

Ia meneruskan perjalanannya ke arah utara dan tiba di atas bukit simandar, dilihatnya ke bawah terdapat danau yang sangat luas dan di pantai baratnya nampak hamparan tanah yang datar. Kemudian dipandangnya arah ke balige tidak nampak lagi apa-apa karena dihalangi dolok pasukbuhit dan pulau samosir. Ia turun ke bawah melalui lereng laksabunga, dan dilihatnya tanah yang terhampar adalah tanah yang subur, karena asap api di Balige tidak mungkin lagi nampak maka ia jadi berkenan tinggal disitu, yang kemudian daerah itu disebut Silalahi Nabolak.
Lalu kemudian, Silahisabungan membangun pondok untuk tempat tinggalnya, dibuatnya bubu untuk menangkap ikan. Setiap hari silahisabungan mambaca dan mempelajari isi Tumbaga Holing, diketemukannya ilmu kesaktian yang dapat berlayar di atas air dengan sebuah daun sumpit. (Gulung Sumpit). Dan ilmu silompit dalan (ilmu yang mempercepat perjalanan). Ditemukannya ilmu Hadatuon, hasiat barang-barang yang diterima; Piso lipat, adalah alat membelah jeruk purut untuk menyembuhkan segala penyakit buatan manusia. Piso tumbuk lada adalah alat menyembuhkan segala penyakit yang dibuat hantu dan setan-setan. Piso halasan adalah alat kerajaan dan alat membunuh musuh diwaktu perang. Piso sigurdung sidua baba adalah alat yang paling tinggi memusnahkan musuh dan melindungi diri dari segala marabahaya. Siorlombing sadopa (hujur) adalah alat serba guna yang dapat dipakai sebagai tongkat petunjuk jalan kehidupan atau anak busur yang dapat mematikan lawan.
Dengan sebuah daun sumpit (bulung sumpit) dilayarinya danau yang sangat luas itu, yang kemudian disebut Tao Silalahi. Setelah berbulan-bulan Silahisabungan di silalahi dia didatangi sorang raja Pakpak, bernama Raja Parultop.


Pertemuan Silahisabungan dengan Raja Parultop

Setelah berbulan – bulan Silahisabungan timggal di Silalahi, dia dikejutkan dengan suatu peristiwa yang membawa berkah bagi hidupnya. Pada suatu hari seorang raja Pakpak bernama Raja parultop berburu atau menyumpit burung dihutan Simarnasar diatas Silalahi Nabolak. Sewaktu Raja Parultop menyumpit seekor burung elang (lail), paha elang itu kena, sehingga tidak mati. Burung elang itu kembali terbang. Raja Parultop mengejar, tetapi begitu didekati burung itu kembali terbang. Demikianlah berulang – ulang, akhirnya Raja Parultop tiba diatas bukit Silalahi Nabolak.
Pada waktu Raja Parultop mengejar ke bukit Silalahi, burung elang itu terbang menuju pulau Samosir melalui Tao Silalahi yang sangat luas itu. Rupanya burung elang itu tidak sanggup terbang ke samosir lalu kembali ke pantai Silalahi dan hinggap dekat pondok Silahisabungan (Terkenalnya Tao Silalahi dari cerita ini artinya Tao na so boi di habangi lali). Burung elang itu mudah ditangkapnya karena sudah lelah. Raja Parultop yang memperhatikan burung elang itu kembali dan hinggap dipantai Silalahi, dia bertekat akan menangkap burung elang itu hidup atau mati, walaupun hari sudah senja. Raja Parultop menuruni bukit Silalahi dan terus mencari tempat hinggapnya burung elang itu.
Raja parultop tercengang melihat sorang pemuda duduk diatas pondok sambil memengang burung elang yang disumpitnya tadi. Dengan rasa geram dan marah Raja Parultop berkata : “ Hei, siapa kamu yang berani tinggal ditanah milikku ini ? aku adalah raja Pakpak yang berkuasa sampai kepantai danau ini. Minta burung elang yang kau pegang itu, kau perlu dihukum dan diusir dari tempat ini, “ katanya.
Silahisabungan mendududki tanah yang dibawa dari Balige dan mengambil air yang dibawa dari Mual Siguti, lalu dengan sopan santun dan cukup berwibawa, menjawab : “ Raja Pakpak yang mulia, saya tidak bersalah, ucapan raja yang mengada-ngada. Saya berani sumpah, bahwa tanah yang saya duduki ini adalah tanahku dan air yang saya minum ini adalah airku, “ lalu meneguk air dari kendi (tabu-tabu) yang dibawanya dari Mual Siguti. Kemudian Silahisabungan berkata: “Natiniptip sanggar mambahen huru-huruan, jumolo sinungkun marga asa binoto partuturan, ia goarhu sude jolma baoa mamboan. Na manungkun ma ahu marga aha ma amang ? lalu menyalam Raja parultop dengan hormat.
Mendengar ucapan sumpah Silahisabungan dan tutur katanya yang menawan, amarah Raja Parultop jadi hilang dan menjawab dengan ramah: “goarmu sude jolma baoa maboan, goarhu pe denggan ma paboaon, I ma ula-ulangku ari marga Padangbatanghari na domu tu marga panasaribu“, katanya.
Mereka tidak menyebutkan nama masing-masing dengan jelas. Tetapi sudah sama-sama mengerti. (sude jolma baoa mamboan, maksudnya ia bernama Silahi = anak laki-laki, ula ulangku siganup ari atau pekerjaan setiap hari, maksudnya ia bernama Parultop, orang yang berburu dengan sumpit).
Kemudian Silahisabungan berkata :”horas ma tulang,ai inongku pe boru pasaribu do”  katanya sambil mempersilahkan raja parultop naik ke gubuk karena hari sudah mulai gelap,silahisabungan mengajak raja parultop bermalam digubuk itu. Ajakan Silahisabungan diterimanya dengan senang hati, merekapun ngobrol2  sampai larut malam. Dalam percakapan mereka Raja Parultop menanya dimana istri dan keluarga Silahisabungan. Dijawabnya bahwa istrinya belum ada. Dia masih perjaka belum pernah berumah tangga. Mendengar tutur kata dan sopan santun dari Silahisabungan , Raja Parultop pun ingin Silahisabungan menjadi menantunya, lalu berkata : “ ada putriku 7 orang. Semuanya sudah anak gadis kalau kau berkenan menjadi menantuku besok kita pergi ke Balla. Pilih salah satu putriku menjadi istrimu. Dengan syarat tidak boleh dimadu (na so marimbang) sepanjang hidupmu “Silahisabungan menyambut dengan senang hati, lalu berkata “ mana mungkin saya berani ke Balla. Kalau tidak memenuhi adat istiadat. Sedang hidupku hanya sebatang kara. Kumohon , janganlah alang kepalang kasih sayang pamanlah membawa paribanku itu kemari, supaya disini saya pilih “.
Alasan Silahisabungan masuk akal Raja Parultop, akhirnya menerima permintaan calon menantunya. Kemudian menetapkan hari dan tanggal pertemuan sekaligus perkawinannya. kemudian mereka sama-sama minta tidur karena sudah lelah sepanjang hari.
Silahisabungan tidak dapat tidur memikirkan dan membayangkan putri Raja itu. Bagaimana cara memilihnya kalau benar 7 orang putri raja. Dengan diam-diam membuka Lak-lak Tumbaga Holing untuk melihat petunjuk. Dalam petunjuk dilihatnya putri raja hanya seorang. Kenapa dikatakan 7 orang ?
Rupanya Raja Parultop pun tidak tidur sepanjang malam itu dengan pura-pura tidur diintipnya gerak-gerik Silahisabungan. Diketahuilah bahwa Silahisabungan adalah Datu Bolon, bukan sembarang orang. besoknya silahisabungan memberangkatkan raja parultop pulang ke Balla dengan oleh-oleh ihan Batak,lalu berkata;” kalau rombongan paman datang terlebih dahulu nyalakan api diatas bukit sana,kemudian akan saya nyalakan api dibawah ini tanda saya sudah siap menyambut.setelah rampung semua perjanjian mereka raja Parultop pulang ke Balla dengan membawa banyak ihan Batak.


Perkawinan Silahisabungan dengan Pinggan Matio

Setelah Raja Parultop tiba di Balla, ia disambut istrinya dan anak-anaknya, dengan rasa gembira. Mereka tercengang melihat ihan batak yang begitu banyak , lalu bertanya: “dari mana ihan batak yang banyak ini ? biasanya bapak membawa daging rusa atau burung sekarang jadi lain, “ kata istrinya. Raja Parultop menerangkan pertemuannya dengan Silahisabungan dan menjelaskan perjanjian mereka tentang rencana perkawinan puterinya dengan Silahisabungan.
Keluarga Raja Parultop merasa gembira mendengar berita itu, lalu mempersiapkan peralatan untuk perkawinan putrinya . Setelah tiba hari yang ditentukan berangkatlah Raja Parultop bersama rombongannya ke Silalahi dan setelah tiba diatas bukit Laksabunga, Raja Parultop menyalakan api tanda bahwa mereka sudah datang. Melihat asap api itu, Silahisabungan pun menyalakan api tanda bahwa ia telah siap menyambut kedatangan rombongan Raja Parultop.
Silahisabungan menyambut rombongan Raja Parultop ditepi sungai yang agak dalam airnya. Raja Parultop bertanya dalam hati, mengapa Silahisabungan menyambut kami disungai yang agak dalam airnya ini? kemudian Silahisabungan berkata: “Tulang suru hamu ma borumuna I sada-sada ro tu bariba on, asa hupillit na gabe parsinondukhu. Raja Parultop mengerti mengapa Silahisabungan menyambut mereka ditepi sungai itu, lalu menyuruh putrinya satu-persatu menyeberangi sungai itu, dengan menjunjung bakul berisi tipa-tipa. Dari mulai puteri pertama sampai putri ke enam, rupanya cantik rupawan, rambutnya bagaikan mayang terurai tetapi tak satupun yang mengena dihati Silahisabungan. Baru putri ketujuh yang rupanya agak jelek dan mata agak kero, Silahisabungan melompat menyambut putri Raja Parultop dan berkata : “ inilah pilihanku paman, menjadi istriku, mudah-mudahan paman merestui dan Mulajadi Nabolon memberkati semoga kami menjadi rumah tangga yang bahagia dan mempunyai keturunan yang banyak, “ katanya.
Sebelum diberkati, Raja Parultop masih menanya Silahisabungan lalu berkata : “ Mengapa kau pilih putri bungsu ini? perawakannya agak pendek dan rupanya pun jelek, padahal kakaknya semua cantik dan badannya genit-genit. “ kemudian Silahisabungan menjawab : “ paman, memang kakak yang enam orang itu semuanya cantik rupanya, tetapi tidak merasa malu tadi menarik sarungnya keatas lututnya sewaktu menyeberangi sungai ini, “ katanya dengan halus. Sebenarnya gadis yang enam orang itu dilihat Silahisabungan dapat berjalan diatas air karena mereka adalah manusia jadi-jadian yang dibuat Raja Parultop untuk menguji hadatuon ni Silahisabungan. Tetapi hal itu tidak dinyatakannya supaya jangan mempermalukan mertuanya. Sejak itulah sungai itu bernama “ Binanga so maila “.
Raja Parultop dan istrinya merestui dan memberkati anak menantunya, lalu berkata : “ Goarmu ma borungku pinggan matio boru Padangbatanghari, anggiat ma tio parnidaan dohot pansarianmu tu jolo ni ari. Asa boru parsonduk bolon ma ho sipanggompar sipanggabe, partintin na rumiris parsanggul na lumobi, paranak so pola didion, parboru so pola usaon. Panggalang panamu, sipatuat na bosur, sipanangkok na male. Ho pe hela na burju,goarmu silahisabungan, sabungan ni hata sabungan ni habisuhon dohot sabungan ni hadutoan. Nunga dipatuduhon ho habisuhon dohot hadatuonmu na mamillit parsinondukmon, partapian simenak enak maho perhatian so ra monggal parninggala sibola tali. Asa saut ma ho gabe raja bolon jala na tarbarita, pasu-pasuon ni mulajadi Nabolon,”katanya.
Setelah selesai pemberkatan, rombongan raja Parultop kembali ke Balla, tinggalah silahisabungan dengan pinggan Matio boru Padangbatanghari memulai hidup baru dan membuka kampung bernama huta lahi. Berselang sembilan bulan, rasa rindu pun mulai bergelora untuk berjumpa dengan orang tuanya. Diajaknnya silahisabungan pergi ke Balla mengunjungi keluarga. Silahisabungan yang sangat sayang kepada isteri tercinta mengabulkan dengan senang hati.
Pada suatu hari pergilah silahisabungan Bersama Pinggan Matio boru padangbatanghari ke kampung mertuanya di Balna. Sewaktu mendaki bukit silalahi,isterinya yang sudah hamil tua mulai merasa dahaga. Rasa penat mulai terasa, sehingga mereka mengaso dilereng bukit yang terjal. Rasa haus pinggan Matio mulai mendesak dan karena capeknya ia bersenandung dengan sedih : “ Loja ma boruadi mamboan tua sian mulajadi, mauas ma tolonan ndang adong mangubati. Jonok do berengon sillumalan na so dundungonki, boha do parsahatku tu huta ni damang parsinuan, dainang pangintubu I, “ katanya. (sudah lelah aku membawa kandungan, rasa haus tak ada mengobati. Nampak dekat air danau tetapi tak boleh terjangkau, apakah aku akan sampai dikampung orang tuaku).
Mendengar keluhan istrinya, Silahisabungan mengambil Siorlombing (tombak) dari kantongannya, lalu berdoa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan air penghidupan (mual sipaulak Hosa) karena Pinggan Matio merasa haus,kemudian silalahisabungan menancapkan Siorlombingnya ke dinding batu terjal dan keluarlah air, lalu Pinggan Matio meminumnya, Air itulah yang di sebut” Mual Sipaulak hosa, ”yang terdapat dilereng bukit Silalalahi Nabolak. Setelah rasa haus hilang dan tenaga mulai pulih, mereka meneruskan perjalanan ke kampung mertuanya di Balla. Kedatangan Silalahisabungan dan Pinggan Matio disambut keluarga Raja Parultop dengan gembira apalagi setelah dilihat putrinya sudah hamil tua. Karena pinggan Matio sudah hamil tua, mertua Silahisabungan meminta agar putrinya tinggal di Balna menunggu kelahiran anaknya, karena Silalahi tidak ada teman mereka membantu.
Setelah beberapa bulan mereka tinggal di Balna, Pinggan Matio melahirkan seorang anak Laki-laki. Silahisabungan merasa gembira dan bersyukur karena dia sudah menjadi seorang ayah. Begitu juga Raja Parultop dan istrinya merasa berbahagia karena sudah ada cucu dari putrinya Pinggan Matio. Mereka berencana untuk mengadakan perhelatan besar sambil membuat nama cucunya itu. Rencana itu diberitahukan kepada menantunya Silahisabungan, yang disambut dengan senang hati.
Raja Parultop mengundang Raja-raja dan penduduk negeri untuk menerima adat dari Silahisabungan sambil menobatkan nama cucu yang baru lahir. Pada pesta perhelatan itu Raja Parultop berkata : “ bapak dan ibu yang kami hormati, sudah lebih satu tahun putri kami Pinggan Matio berumah tangga dengan Silahisabungan dan telah dianugerahi Tuhan seorang anak laki-laki. Selama ini kami merasa ragu karena belum terlaksana adat yang berlaku. Hari ini tibalah saatnya anak menantu kami membayar adat sekali gus memberi nama cucu yang baru lahir dan menobatkan ayahnya menjadi Raja.”
Kemudian Raja Parultop mengatakan : “ Nunga lolo raja, jala nunga loho roha, hubaen ma goar ni pahompu on Si Loho Raja. Beberapa minggu setelah pesta, Raja Silahisabungan dengan istrinya Pinggan Matio kembali ke Silalahi Nabolak.
Selama dua tahun mereka tidak pernah lagi datang ke Balna. Karena sudah dua tahun tak pernah datang Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio ke Balla, rasa kangen dan rindu Raja Parultop timbul lalu berkata kepada istrinya: “Sitingkir jolo borunta tu silalahi, (aku sudah rindu) katanya. Bertepatan dengan kedatangan Raja Parultop di Silalahi, Pinggan Matio melahirkan anak kedua seorang laki-laki. Kemudian anak itu diberi nama Tingkir Raja atau Tungkir raja.
Pada suatu ketika Raja silahisabungan bertukang membuat tempat tidur (rusbang) dari kayu bulat yang disebut “Sondi” Setelah tempat tidur selesai dikerjakan, Pinggan Matio melahirkan anak ketiga seorang laki-laki, yang kemudian diberi nama Sondiraja. Raja Silahisabungn nampak bergembira karena telah mempunyai tiga orang anak laki-laki, tetapi Pinggan Matio terasa kurang bergairah karena belum diberikan Tuhan anak perempuan.
Hati pinggan matio yang gundah gulana diperhatikan Raja Silahisabungan, lalu ia pergi bersemedi ke Gua Batu diatas Huta Lahi. Dia memohon kepada Mulajadi Nabolon agar mereka diberikan seorang anak perempuan. Idaman Pinggan Matio dan Permohonan Raja Silahisabungan dikabulkan Mulajadi Nabolon. Pinggan Matio melahirkan anak keempat seorang perempuan, lalu ia berkata : “ Nunga Gabe jala mamora au, hubahen ma goar ni borunta on Deang Namora, katanya kepada Raja Silahisabungan dengan Suka-cita Raja Silahisabungan juga merasa bahagia karena permintaannya terkabulkan.
Kemudian Pinggan Matio melahirkan anak kelima, seorang anak laki-laki. Pada waktu kelahiran anak kelima ini, raja Silahisabungan baru mengganti atap rumah yang terbuat dari kayu butar. Oleh karena itu mereka membuat nama anak kelima ini Butarraja atau Sidabutar.
Pada waktu kelahiran anak keenam, Raja Silahisabungan sedang berada di pulau Samosir untuk mencari tanah kosong menjadi milik keturunannya kelak. Tanah itu kemudian disebut “Luat Parbaba.” Setelah Raja Silahisabungan kembali dari seberang (Bariba) Pinggan Matio telah melahirkan seorang anak laki-laki. Karena ia baru tiba dari Bariba (seberang) maka diberilah nama anak itu Dabaribaraja atau Sidabariba.
Kelahiran anak Raja Silahisabungan yang ketujuh ditandai dengan terjadinya peristiwa alam. Pada saat Pinggan Matio melahirkan, turun hujan lebat sehingga terjadi tenah longsor (tano bongbong) di Silalahi Nabolak. Karena Tano Bongbong (Tanah Longsor) itu mengagetkan Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio, maka mereka membuat nama anak laki-laki yang baru lahir itu Debongraja = Debangraja atau Sidebang.
Anak Raja Silahisabungan yang kedelapan bernama Baturaja atau Pintubatu. Pada waktu kelahiran anak bungsu Pinggan Matio ini, Raja Silahisabungan sedang bersemedi di Gua batu di atas Huta Lahi. Saat melahirkan itu, Pinggan Matio merasa lelah karena Faktor usia, sehingga mengerang minta bantuan. Lohoraja yang melihat ibunya mengerang pergi mamanggil Raja Silahisabungan. Raja Silahisabungan membuat obat salusu (obat penambah tenaga), Boru Pinggan Matio melahirkan seorang anak Laki-laki. Karena Silahisabungan dipanggil dari Gua Batu maka diberilah nama anak itu Baturaja atau Pintubatu. Dengan kelahiran Baturaja maka anak Raja Silahisabungan dari Pinggan Matio boru Padangbatanghari berjumlah delapan orang, tujuh putra dan satu putri.
Semenjak kelahiran Baturaja, Raja Silahisabungan pun selalu manandanghon Hadatuon (Bertanding ilmu) ke Samosir, Simalungun dan Tanah Karo.



Perkawinan Raja Silahisabungan dengan Siboru Nailing

Siboru Nailing boru Nai Rasaon adalah putri Raja Mangarerak, seorang Raja yang terkenal di Sibisa Uluan. Siboru Nailing adalah gadis primadona di Uluan.
Banyak pemuda dan anak raja ingin meminangnya, tetapi terganjal karena Siboru adalah putri pingitan yang sudah dijodohkan dengan seorang putra Raja dari pulau Sibandang. Siboru Nailing menjadi putri rebutan, banyak para pemuda yang ingin mempersuntingnya pergi ke dukun membuat  dorma [ ilmu pemikat] .Karena banyaknya persaingan, Siboru Nailing terkena dorma si Jundai (Dorma Sisunde ) yang sulit diobati. Raja Mangarerak pun mulai gelisah melihat putrinya kena Dorma Sijundai.
Pada suatu hari, Raja Silahisabungan datang ke Sibisa mandanghon hadatuon (Bertanding ilmu). Berita kedatangan Raja Silahisabungan ke sibisa membuat hati Raja Mangarerak menjadi lega, karena diketahuinya Raja Silahisabungan adalah dukun besar (datu Bolon) yang dapat menyembuhkan bermacam penyakit. Kemudian Raja Mangarerak memanggil Raja Silahisabungan untuk mengobati putrinya Siboru Nailing. Raja Silahisabungan membuka Laklak Tumbaga Holing untuk melihat petunjuk apa penyebab penyakit itu, lalu berkata: “penyakit putri raja disebabkan persaingan tidak sehat, setan dan iblis selalu datang menggangu sehingga ia selalu mengigau. Pengobatannya agak lama karena rohnya (tondinya) sudah ditawan dalam gua. Namun pun demikian, berkat pertolongan Tuhan penyakit akan dapat disembuhkan, tetapi apakah upah saya ?” katanya.
Raja mangarerak kaget mendengar penyakit Siboru Nailing dapat disembuhkan, lalu berkata :” segala permintaanmu akan saya kabulkan asal penyakit putriku dapat disembuhkan,” katanya dengan pasrah. Mendengar pernyataan Raja Mangarerak ini,” Raja Silahisabungan mulai mengobati Siboru Nailing. Baru beberapa hari diobati, tanda tanda kesembuhan penyakit Siboru Nailing mulai nampak. Selama Siboru Nailing dalam pengobatan rasa cinta dan kasih sayang bersemi dihati mereka berdua. Dan setelah penyakit Siboru Nailing sembuh, Raja Silahisabungan mengungkapkan rasa Cintanya kepada Siboru Nailing.
Siboru Nailing terdiam dan menjawab dalam pandangan, bahwa ia pun merasa cinta kepada Raja Silahisabungan, walaupun umur mereka tidak sebaya. Dengan menganggukkan kepala ia menyatakan cintanya.
Kemudian Raja Silahisabungan mengatakan pengobatannya telah usai. Raja Mangarerak merasa gembira dan bermaksud mengadakan pesta Syukuran, sambil membayar hutang kepada Raja Silahisabungan, Raja-raja dan penduduk negeri diundang tanda rasa suka cita.
Setelah acara pesta Syukuran selesai Raja Mangarerak menyediakan emas dan uang, lalu bertanya kepada Raja Silahisabungan :”penyakit Siboru Nailing sudah sembuh, berapakah upahmu yang akan saya bayar?” katanya sambil mengambil emas dan uang dari pundi-pundinya. Raja Silahisabungan menjawab :” Raja yang Mulia dan Raja yang saya hormati. Saya tidak butuh uang dan emas, tetapi sesuai dengan perjanjian kita, apa yang saya minta upahku akan raja kabulkan. Rasa kasih sayang selama mengobati, menimbulkan bersemi cinta dihati, kiranya Mulajadi Nabolon dan Raja memberkati, saya tidak meminta upah tetapi aku menginginkan Siboru Nailing untuk menjadi istriku, katanya dengan hormat.
Mendengar ucapan Raja Silahisabungan itu, Raja Mangarerak dan para undangan tercengang karena umur Siboru Nailing masih muda. Raja Mangarerak dan para undangan saling berpandangan, tetapi tidak berani menolak, lalu berkata : “saya tidak menolak permintaanmu itu, tetapi kasihanilah kami dinegeri ini, karena Siboru Nailing telah dijodohkan dengan putra Raja dari Sibandang : apabila Siboru Nailing kau persunting, negeri ini akan diserang. penduduk pun akan susah,” katanya minta pengertian.
Kemudian Raja Silahisabungan menjawab: ”dengke ni sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise siose padan tu ripurna tu magona, (janji harus ditepati, bila dilanggar akan timbul mara bahaya) mengenai keamanan negeri ini dan serangan dari raja pulau Sibandang sayalah yang bertanggung jawab. Selama saya berada di daerah ini tidak akan terjadi apa-apa, “ katanya meyakinkan.
Karena takut menolak permintaan Raja Silahisabungan, raja-raja dan para undangan memberi saran : ”Karena raja Silahisabungan telah memberi jaminan, kita tanyalah putri kita Siboru Nailing, apakah mau menerimanya”. Kemudian Raja Mangarerak dan para undangan menanya Siboru Nailing apakah mau menerima permintaan Raja Silahisabungan itu. Siboru Nailing Menjawab: ” ndang simanukmanuk sibontar andora, ndang sitodo turpuk si ahut lomo ni roha. Tu ginjang ninna porda tu toru pambarbaran, tu ginjang ninna roha patoruhon do sibaran. Au dang manjua, ala naung marsihaholongon, sai anggiat ma  dapotan tua, pasu-pasuon ni mulajadi nabolon”, katanya bersenandung tanda setuju.
Mendengar ungkapan Siboru Nailing yang memang sudah mencintai Raja Silahisabungan, Raja Mangarerak dan para undangan pun merasa terkejut karena pernyataan itu merupakan ungkapan hati nurani yang paling dalam. Kemudian Raja Mangarerak berkata :” para undangan yang saya muliakan. Hari ini adalah pesta syukuran dan sekali gus pesta perkawinan puteri kita dengan Silahisabungan, marilah kita memberi berkat (Mamasu-masu) semoga Mulajadi Nabolon memberi kebahagiaan, “ katanya kepada raja-raja dan para undangan.
Berita perkawinan Siboru Nailing tersiar sampai ke pulau Sibandang. Membuat lelaki oroan menjadi marah. Lelaki itu bermaksud akan menuntut balas, tetapi mendengar Raja Silahisabungan yang mempersunting dia menuntut agar dapat menandingi Raja Silahisabungan.
Setelah Siboru Nailing mengandung enam bulan, tersiar kabar di Sibisa, lelaki oroan akan datang menuntut balas dengan membawa pasukan dari pulau Sibandang. Mendengar berita itu Raja Mangarerak gelisah dan meminta Raja Silahisabungan membawa Siboru Nailing meninggalkan Sibisa. Tetapi Raja Silahisabungan menjawab: ”kampungku sangat jauh amang, tak mungkin membawa isteri dalam keadaan hamil tua. Amang jangan takut dan resah mendengar berita itu. Selama saya berada dinegeri ini tidak akan terjadi apa-apa”, katanya. Mendengar alasan itu Raja Mangarerak tidak dapat memaksakan kehendak. Kemudian raja silahisabungan pergi ke bukit Sigapiton untuk membuat penangkal agar musuh tidak boleh dekat.
Setelah siboru nailing melahirkan seorang anak laki-laki, Raja Silahisabungan membuka penangkalnya sehingga pasukan musuh pun sudah semakin dekat. Karena pasukan lelaki oroan sudah mengepung daerah Sibisa, Raja mengarerak mendesak agar Raja silahisabungan bersama anak isterinya segera meninggalkan Sibisa. Kemudian Raja Silahisabungan berkata kepada isterinya: ”Boru ni raja !! pasukan lelaki oroan sudah mengepung kampung ini. Mereka berencana akan membunuh saya. Orang tua kita Raja Mangarerak pun sudah mendesak agar kita segera berangkat, padahal keadaan mu itu belum mengijinkan. Bagaimana kalau saya bersama anak kita lebih dahulu berangkat, kalau kau sudah sehat dan tenagamu sudah pulih, aku akan menjemputmu kembali,katanya membujuk siboru nailing.
Mendengar alasan Raja Silahisabungan itu dan memikirkan desakan raja Mangarerak, istrinya Si Boru Nailing menjawab:” Amang boru, Aku sangat mencintaimu dan anak kita ini. Selamatkanlah dirimu dan anak kita ini, biarlah saya tinggal menanggung derita, ini sebuah cincin (tintin tumbuk) kalau anakku ini besar berikan kepadanya pertanda akulah ibu yang melahirkannya, “katanya dengan terharu sambil menyerahkan Tintin Tumbuk itu. Kemudian Raja Silahisabungan bersama anaknya yang baru lahir pun pergi,setelah pamit dari mertuanya Raja Mangarerak.
Sesudah Raja Silahisabungan berangkat, Pasukan Oroan pun tiba dikampung Raja mangarerak, lalu bertanya “ dimana si Boru Nailing dan dimana Lelaki suaminya itu, biar kubunuh,” kata lelaki oroan itu. Raja Mangarerak menjawab:” siboru Nailing sedang di Perapian (mandadang) sedang suaminya telah pergi bersama anaknya” lelaki oroan itu merasa sedih dan berkata “ dang di au be amang, jolma naung marhamulian, alai tong ma au ingot hamu, parjampar diadaran parbagian dibalian, “ katanya sambil merenungi nasib dirinya.

Dengan mempergunakan Silompit dalan dan berlayar didaun sumpit, pada sore harinya Raja Silahisabungan telah tiba di Silalahi Nabolak. Begitu sampai di rumah tas hadang-hadangannya ditaruh di atas para-para dan raja Silahisabungan duduk bersandar dengan muka murung. Melihat kejadian itu Pinggan Matio dan anak-anaknya tidak berani bertanya apa yang terjadi
Pada keesokan harinya pada waktu Raja Silahisabungan pergi memeriksa ladangnya, Pinggan Matio mendengar suara bayi menangis di atas Para-para lalu memeriksa tas hadang-hadangan Raja Silahisabungan. Pinggan Matio terkejut melihat seorang bayi yang mungil didalamnya, kemudian memangku dan menimang-nimangnya agar tidak menangis lagi. Setelah Raja Silahisabungan kembali ke rumah, istrinya Pinggan Matio bertanya :” amang Raja Nami, dari mana bayi lelaki yang mungil ini? Katanya dengan ramah. Dengan suara yang lembut Raja Silahisabungan menerangkan asal-usul anak itu dan meminta agar memaafkan perbuatannya. Mendengar keterangan suami yang penuh kasih sayang, Pinggan Matio berkata : “ Sudah Tambun (Tambah) anakku dan inilah anak bungsuku maka saya beri namanya Tambun Raja, “ katanya sambil mendekap dan menimang-nimang bayi itu. Mendengar pernyataan Pinggan Matio, Perasaan Raja Silahisabungan menjadi Lega.
Kasih sayang ibu Pinggan Matio kepada anak bungsunya Tambun Raja sungguh berlebihan sehingga menimbulkan Iri hati abang-abangnya. Raja Silahisabungan dan ibu Pinggan Matio sangat memanjakan Sitambunraja, yang kemudian terkenal Siraja Tambun. Pada suatu ketika Raja Silahisabungan mengadakan pembagian tanah ( Tano Golan ) kepada anak-anaknya agar jangan terjadi persoalan dikemudian hari. Dalam pembagian itu Siraja Tambun mendapat tanah yang paling luas dan subur yang mengakibatkan kecemburuan abang-abangnya.
Pada suatu hari terjadi pertengkaran antara siraja Tambun dengan salah seorang abangnya. Dalam pertengkaran itu terungkap kata-kata yang menyakitkan hatinya : “ hai raja tambun, kau jangan manja dan sombong. Kau bukan adik kami, entah dimana ibumu kami tak tau, “ kata abangnya itu. Mendengar ucapan yang memilukan itu, Siraja Tambun pun menangis tersedu-sedu dan mengadu kepada ibunya. Ibu Pinggan Matio mengusap usap anaknya itu dengan kasih sayang dan mengatakan :” jangan dengarkan kata-kata abangmu itu. Aku adalah ibumu yang membesarkan kau sejak kecil, “ katanya. Tetapi setiap timbul pertengkaran dengan abangnya selalu didengarnya kata-kata yang menyayat hatinya, akhirnya Siraja Tambun memberanikan diri bertanya kepada ayahnya :  Ayah, siapakah ibu yang melahirkan saya dan dimana pamanku ? Raja Silahisabungan menjawab dengan ramah dan penuh kasih sayang :“ anakku tersayang, ibumu adalah Pinggan Matio yang membesarkan dan menyusukan kau sejak kecil, :” katanya.
Karena tindakan dan perbuatan abangnya semakin menyakitkan, maka Siraja tambun dengan tegas bertanya: “ ayah jangan berdusta lagi, siapa sebenarnya ibu yang melahirkan saya ? katanya dengan nada mengancam dihadapan Pinggan Matio. Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio saling berpandangan lalu menjawab :” anakku tercinta, ibumu adalah Siboru Nailing, Putri Raja Mangarerak di Sibisa, Bila kau ingin dan rindu menjumpainya, biar ku antar nanti dengan baik,:” katanya dengan membujuk.
Kemudian Raja Silahisabungan menyuruh Pinggan Matio menempa Sagu-sagu Marlangan berbentuk manusia yang ditaruh di kedalaman ampang ( Sejenis bakul ). Mereka pergi kemaras dan dibentangkanlah tikar tempat mereka duduk. Raja Silahisabungan, Pinggan Matio bersama Deang Namora duduk menghadap ampang berisi Sagu-sagu marlangan, lalu disuruhnya Lohoraja, Sondiraja, Dabaribaraja, dan Batu raja duduk disebelah kanannya. Tungkir Raja, Batu Raja dan Debang Raja disuruhnya duduk disebelah kiri mereka. Sedang Siraja Tambun disuruh duduk didepannya sama-sama menghadap ampang berisi Sagu-sagu Marlangan. Setelah mereka duduk mengelilingi ampang berisi sagu-sagu marlangan itu Raja Silahisabungan berdiri dan berdoa kepada Mula Jadi Nabolon, lalu menyampaikan pesan ( wasiat ) yang kemudian terkenal dengan nama “ PODA SAGU-SAGU MARLANGAN “. Isi Poda sagu-sagu marlangan tersebut adalah sebagai berikut :
 

HAMU ANAKKU NA UALU :
IKKON MARSIHAHOLONGAN MA HAMU SAMA HAMU RO DI POMPARANMU, SI SADA ANAK SI SADA BORU, NA SO TUPA MARSIOLIAN, TARLUMOBI POMPARANMU NA PITU DOHOT POMPARANNI SI TAMBUN ON.
IKKON HUMOLONG ROHAMU NA PITU DOHOT POMPARANMU TU BORU POMPARAN NI ANGGIM SI TAMBUN ON, SUANG SONGON I NANG HO TAMBUN DOHOT POMPARANMU IKKON HUMOLONG ROHAM DI BORU POMPARAN NI HAHAM NA PITU ON.
TOKKA DOHONONMU NAUALU NA SO SA INA HAMU TU PUDIAN NI ARI.
TOKKA PUNKKAON BADA MANANG SALISI TU ARI NA NAENG RO
MOLO ADONG MARBADA MANANG PARSALISIHAN DI HAMU, INGKON SIAN TONGA-TONGAMU MA SI TAPI TOLA, SIBAHEN UHUM NA TIKKOS NA SO JADI MARDIKKAN, JALA NA SO TUPA HALAK NA ASING PASAEHON.


Kemudian Raja Silahisabungan duduk dan menyuruh anak-naknya menjamah sagu-sagu marlangan itu tanda kesetiaan dan ikrar yang harus djunjung. Hingga ke 8 anak Raja Silahisabungan menjamah Sagu-sagu marlangan itu dan berkata : ” Sai dipargogoi Mulajadi Nabolon ma hami dohot pomparanmi mangulahon poda na nilehonmi amang,” kata mereka saling bergantian. Kemudian Raja Silahisabungan berkata, barang siapa yang melanggar wasiat ini seperti sagu-sagu marlangan inilah kelak tidak berketurunan, ikkon mago jala pupur.” Katanya.
Setelah acara dimaras Simarampang selesai, Raja Silahisabungan bersama istrinya dan putra-putrinya kembali lagi ke Huta Lahi untuk mempersiapkan bekal Siraja Tambun diperjalanan. Pada saat itulah Raja Silahisabungan memberikan “ barang homitan hadatuon “kepada Siraja Tambun. Kemudian Siraja Tambun bersalam-salaman dengan abang-abangnya sambil saling memberikan doa restu. Sewaktu menyalam Pinggan Matio, ibunya itu mendekap Siraja Tambun dan berkata: ”Unang lupa ho amang di au inangmu na patarus-tarus dohot na pagodang-godang ho, “katanya sambil mendoakan semoga Siraja Tambun selamat dan berbahagia kelak.
Mendengar kata-kata Pinggan Matio, Ito nya (saudarinya) Deang Namora menangis lalu merangkul dan mencium Siraja Tambun. Dengan rasa pilu dan sedih ia berkata: ”borhat ma ito tu huta ni tulangta. Na denggan i ma paboa tu inang pangintubu, gabe jala horas ma ho amang na burju,” katanya dengan terisak-isak. Setelah itu berangkatlah Siraja Tambun diantar Raja Silahisabungan ke Sibisa.



sumber :
Blog, Updated at: November 05, 2001