image

Tukkot Tunggal Panaluan

Adsense Indonesia

Pada waktu dulu ada sebuah cerita yang berasal dari Pangururan, pulau Samosir tepatnya di desa Sidogor-dogor tinggallah seorang laki-laki bernama Guru Hatimbulan. Beliau adalah seorang dukun yang bergelar ‘Datu Arak ni Pane’. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan.

Telah sekian lama mereka menikah tetapi belum juga di karuniai keturunan. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tersebut membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib (aneh), bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi masa kemarau yang panjang, cuaca sangat panas dan kering dan permukaan tanah dan rawa pun menjadi retak dan keras.

Melihat keadaan kemarau yang berkelanjutan ini, Raja Bius menjadi risau, lalu ia pergi menjumpai Guru Hatimbulan dan berkata kepadanya : Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya kepada Debata Mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus berkepanjangan, hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya. Lalu Guru Hatimbulan menjawab :'Semua ini mungkin saja terjadi', lalu Raja Bius mengatakan :'Semua orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata bahwa kehamilannya itu sangat aneh', karena percakapan itu maka timbullah pertengkaran diantara mereka, tetapi tidak sampai ada perkelahian.



image


Di kemudian hari istri Guru Hatimbulan pun melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, laki-laki dan perempuan, seketika itu juga maka hujan pun turun, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Untuk merayakan itu semua, lalu Guru Hatimbulan memotong seekor lembu serta untuk mendamaikan kekuasaan jahat.

Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan, putranya diberi nama Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan.

Setelah usai pesta tersebut, ada beberapa tamu yang menasehati Guru Hatimbulan supaya anak-anak itu jangan kiranya di asuh bersama-sama, yang satu kiranya di bawa ke barat dan yang satu lagi di bawa ke timur, sebab anak itu lahir kembar, dan juga berlainan jenis kelamin, hal ini sangat tidak menguntungkan menurut kata orang tua jaman dulu.

Guru hatimbulan tidak menuruti nasehat dari para penatua dan kepala kampung tersebut. Setelah sekian lama terbuktilah apa yang dikatakan oleh para penatua itu dan benar adanya. Dilain waktu, Guru Hatimbulan pergi ke Pusuk buhit dan membuat sebuah gubuk disana, dan membawa anak-anaknya kesana.

Gubuk itu dijaga dengan seekor anjing dan setiap hari Guru Hatimbulan membawakan makanan untuk anaknya tersebut. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu tanggulon (hau tadatada), pohon yang batangnya penuh dengan duri, dan mempunyai buah yang sangat manis.

Melihat buah pohon itu,maka timbullah hasratnya untuk memakannya dan dia pun memanjat pohon buah itu, setelah memakannya saat itu juga dia pun tertelan dan menjadi satu dengan pohon tersebut, hanya kepalanya saja yang terlihat. Seiring waktu berjalan, hari pun sudah sore abangnya Si Aji Donda Hatahutan sudah gelisah menunggu adiknya pulang, lalu dia pergi ke dalam hutan untuk melihat sambil berteriak memanggil-manggil nama adiknya itu. Tiba-tiba dia mendengar jawaban dari adiknya dari pohon yang berdekatan dengannya, dan adiknya pun menceritakan apa yang terjadi,sehingga dia tertelan oleh pohon tersebut.

Si Aji Donda memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dgn pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan harinya, anjing mereka lewat dan meloncat-loncat pada pohon tersebut, lalu anjing itupun mengalami hal yang sama, tertelan oleh pohon itu dan hanya kepalanya saja yang terlihat.

Seperti biasa si Guru hatimbulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon tersebut dan dimana dia hanya melihat kepala kedua anak-anaknya dan anjingnya. Melihat hal itu dia pun menjadi sedih.
Pada saat itu juga ia menemui seorang datu yang bernama Datu Parmanuk Koling, dia menceritakan kejadian itu dan mengajak datu itu ke pohon tersebut untuk menolong anaknya, dan dikuti oleh banyak orang yang ingin melihatnya. Datu Parmanuk Koling pun memulai ritualnya dan diiringi dengan musik, si datu berdoa dan membaca mantra untuk membujuk roh pohon tersebut untuk melepaskan anak si Guru hatimbulan, setelah upacara selesai maka naiklah si Datu Parmanuk koling ke pohon itu, tetapi hal yang sama juga terjadi, dia tertelan oleh pohon itu.

Guru Hatimbulan dan orang-orang yang ada disitu kembali ke rumah mereka dengan hati kecewa, namun mereka tidak putus asa, mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dengan mencari datu yang lain. Kemudian Guru hatimbulan bertemu dengan datu yang hebat, namanya Marangin Bosi atau Datu Mallatang Malliting. Mereka pun pergi ke pohon tersebut, tetapi naas datu tersebut pun mengalami nasib yang sama.

Kemudian ada juga Datu Boru SiBaso Bolon, dia juga ditelan si pohon itu. Hal yang sama juga terjadi kepada Datu Horbo Marpaung, Si Aji Bahar (si Jolma so Begu) yang mana setengah manusia dan setengah iblis. Dan seekor ular pun ikut ditelan pohon itu. Guru hatimbulan sudah kehabisan akal,dan juga telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk keperluan pele-pelean (sajian), para pemusik (gondang), dan semua yang diminta para datu itu untuk roh yang ada di pohon tersebut.

Beberapa hari kemudian, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang memberitahukan Guru Hatimbulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya dari tawanan pohon itu. Guru Hatimbulan mempercayai omongan si datu itu,dan menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu. Si datu berkata bahwa kita harus memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah, roh air, roh kayu dan yang lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua anak tersebut.

Guru Hatimbulan mempersiapkan semua yang diperlukan oleh si datu untuk upacara tersebut sesuai dengan arahan si datu. Kemudian mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada senjata wasiatnya, lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yang ada di pohon itu menjadi hilang, juga anjing dan ular yang tertelan pohon itu. Semua orang yg menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru Hatimbulan: Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yg ditelan oleh pohon ini. Guru hatimbulan pun memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tukkot dengan bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, satu ekor anjing dan satu ekor ular.
Setelah selesai mengukir tukkot tersebut menjadi 9 wajah, maka semua orang yang ada disitu kembali ke kampung, ketika mereka tiba di kampung, Datu Hatimbulan membuat acara musik (gondang), dan juga menyembelih seekor sapi untuk menghormati mereka yang di ukir dalam tukkot tersebut. Setelah Guru Hatimbulan selesai manortor maka tukkot itu diletakkan membelakangi lumbung padi. Setelah itu datu Parpansa Ginjang manortor (menari), dan dia pun kesurupan (siar- siaron) dirasuki oleh roh-roh dari orang-orang yang ditelan pohon itu dan berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari:

1. Si Aji Donda Hatahutan

2. Siboru Tapi Nauasan


3. Datu Pulo Punjung nauli, atau si Melbus-elbus

4. Guru Manggantar porang

5. Si Sanggar Maolaol

6. Si Upar mangalele

7. Barita Songkar Pangururan

Dan roh itu berkata, “Wahai pengukir, kau telah membuat ukiran dari wajah kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam, kami mengutuk kamu, wahai pengukir!.

Si datu menjawab, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini aku tidak dapat mengukir wajah kalian”.

Tetapi si pisau berbalik membalas, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi, kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau”.

Si tukang besi pun tidak ingin disalahkan lalu berkata, “Jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi”.

Angin pun menjawab,”Jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru hatimbulan”.

Ketika semua tertuju pada Guru hatimbulan, maka roh itu berkata melalui si datu, “Aku mengutukmu Ayah dan juga kamu Ibu yang melahirkan aku”.

Ketika Guru Hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik, “Jangan kutuk aku dan ibu mu tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau nya yang tertelan oleh pohon itu.

Lalu Roh itu berkata: “Baiklah, biarlah begini adanya ayah tetapi gunakanlah aku untuk : menahan hujan, memanggil hujan pada waktu musim kering, senjata di waktu perang, mengobati penyakit, menangkap pencuri, dll. Setelah upacara itu selesai, orang-orang yang ada disitu bergegas untuk pulang ke rumahnya masing-masing.

Sekian.




 


sumber :

Thanks for reading & sharing Sihaloho Sidapitu